BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam
Islam, Qurban bukan sekedar upacara penyembelihan binatang, dan aktivitas
membagikan daging hewan pada mereka yang tidak punya uang. Lebih dari itu,
Qurban memiliki akar sejarah yang demikian kuat, dan memiliki posisi yang
sangat penting ditengah-tengah masyarakat, selain memiliki ukuran religi yang
menghubungkan antara makhluq dan kholiq. Dengan demikian, qurban dapat
mempererat tali ikatan, sekaligus qurban menjadi cermin yang memberikan
informasi sejauh mana seseorang muslim mau berkorban kepada sesama.
Tradisi
qurban bermula pada masa nabi Ibrahim AS. Pada masa nabi ismail bin ibrahim
berusia 7 tahun, tepatnya pada tanggal kedelapan (bulan Dzulhijjah). Nabi
ibrahim bermimpi mendapat perintah dari allah untuk menyembelih nabi ismail,
lantas nabi ibrahim berfikir, apakah mimpi tersebut dari allah? Atau dari
syaithan. Maka dari itulah hari tersebut di kenal dengan hari tarwiyah (hari
yang meragukan).Malam berikutnya, yakni malam kesembilan bulan Dzulhijjah nabi ibrahim
bermimpi kembali dan akhirnya nabi ibrahim yaqin bahwa mimpi itu benar-benar
dari allah SWT oleh sebab itu, tanggal 9 dzulhijjah dikenal dengan hari arafah.
Pada malam
berikutnya, yaitu malam kesepuluh bulan dzulhijjah nabi ibrahim bermimpi lagi,
akhirnya pada keesokan harinya nabi ibrahim berangkat bersama nabi isma'il
untuk melaksanakan perintah Allah, yang bertepatan dengan 10 dzulhijjah, dan
hari itu pulalah disebut dengan hari nahr (hari penyembelihan atau qurban).
Dengan kesabaran, ketabahan dan ketaatan nabi ibrahim AS dan nabi ismail
AS,untuk meneruskan prosesi qurban, dan Allah SWT menggantinya dengan seekor sembelihan
(kambing).
1.
Apakah
pengertian Qurban?
2.
Bagaimana
hubungan pelaksanaan Qurban dengan nilai-nilai pancasila?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Qurban
Kurban menurut bahasa arab قربن, transliterasi: Qurban), atau disebut juga
Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan.
Jadi qurban merupakan wujud kesediaan seseorang untuk mengorbankan yang dicintainya
dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Qurban adalah suatu amalan yang
diisyariatkan Islam pada tahun kedua Hijriyah berdasarkan dalil Al-Qur’an,
Hadits dan Ijma. Al-Qur’an mensyariatkannya melalui surat Al-Kautsar (QS.108: 1
– 2). Ibadah Qurban merupakan bentuk
wujud SYUKUR kita atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT (nikmat
sehat, nikmat selamat, nikmat materi dan masih beribu nikmat lainnya). Ibadah
Qurban ibadah yang sudah lama dilakukan, sejak sejarah Nabi Adam.
Sedangkan ritual kurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama
islam, dimana dilakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan
kepada Allah. Ritual kurban dilakukan pada bulan dzulhijjah pada penanggalan
Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik)
bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.
Melaksanakan Qurban secara harfiah adalah mendekatkan
diri kepada Allah SWT, karena dalam Alquran, Allah tidak mengharapkan darah
atau daging, tetapi patuh terhadap apa yang diperintahkan agama serta menjauhi
larangannya. Mengkonsumsi daging, hal tersebut juga sebagai simbul dari
perbaikan gizi dan kualitas manusia Indonesia.Disamping itu, Sementara dalam
pemaknaannya, qurban adalah penyembelihan hewan serta menebarkan daging kepada
mereka yang kurang mampu, atau yang jarang membagikan daging hewan qurban sebagai bentuk
perhatian pada yang kurang beruntung dengan kebutuhan fisik. Penyembelihan
hewan ternak untuk dibagikan pada orang lain, secara sosial adalah memberikan
sebagian hartanya yang kemudian dibagikan kepada yang kurang beruntung, hal
tersebut sangat bagus dalam pembelajaran umat, bagi bangsa Indonesia untuk
saling berbagi, karena di Indonesia masih banyak masyarakat yang kurang
mampu/miskin.
Sebagai falsafah hidup bangsa, hakekat nilai-nilai
Pancasila telah hidup dan diamalkan oleh bangsa Indonesia sejak negara ini
belum berbentuk. Artinya, rumusan Pancasila sebagaimana tertuang dalam alinea 4
UUD 1945 sebenarnya merupakan refleksi dari falsafah dan budaya bangsa, termasuk
di dalamnya bersumber dan terinspirasi dari nilai-nilai dan ajaran agama yang
dianut bangsa Indonesia.
Islam sebagai agama yang dipeluk secara mayoritas oleh
bangsa ini tentu memiliki relasi yang sangat kuat dengan nilai-nilai Pancasila.
Hal ini dapat disimak dari masing-masing sila yang terdapat pada pancasila.
Indonesia dengan dasar Negara “Pancasila”, dimana
dalam sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan lambang Bintang terdapat
pada dada burung Garuda, korelasinya dengan Qurban, adalah wujud perhatian yang
kuat pada yang lemah, bentuk persaudaraan golongan yang kaya dengan yang
miskin, dimana yang kaya menyayangi yang miskin. Qurban dengan ajakan untuk
saling berbagi juga memiliki makna “Kemanusiaan yang Adik dan Beradab”,
sebagaimana yang tertuang dalam sila kedua, dimana beradab adalah pembagian
daging dengan iklas, untuk mengambil atau dibagi, yang kuat memperhatikan yang
kecil atau yang lemah. Itu adalah kemanusiaan dan beradab.
Dari situ maka akan terbentuk persatuan dari kelompok yang kaya atau yang
kuat dengan yang lemah atau yang miskin, yang kaya menyayangi yang miskin dan
yang miskin juga menghargai yang kuat, demikian juga saat pelaksanaan sholat
Idul Adha dilapangan atau Masjid secara bersama-sama tanpa membedakan kaya atau
miskin, kuat atau lemah, sebagai bentuk “Persatuan Indonesia”.
Sementara dalam Sila ke empat “Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”, dituangkan dalam Kerakyatan
yang dipimpin oleh Hikmat, dimana Hikmat adalah bentuk kearifan sebagai hukum
Allah yang tidak tertulis dan diajarkan kepada alam, dan menjadi acuan dalam
pengelolaan aneka ragam ini.
Demikian juga kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, bahwa
semuanya harus ada pimpinan, ada yang memimpin dan yang dipimpin sehingga akan
sampailah pada tujuan kemerdekaan RI, yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh
Rakyat Indonesia”, jadi makna Qurban dengan implementasi nilai agama, yang
seiring sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Ibadah Qurban, sudah kita pahami bersama memiliki
nilai-nilai yang dapat mengembangkan kompetensi spiritual, kompetensi sosial
bahkan kompetensi Inti pengetahuan dan Keterampilan. Oleh karena itu, sejalan
dengan kurikulum baru di Indonesia, maka ibadah Qurban di beberapa tempat
dapat dijadikan kegiatan pembelajaran yang berparadigma kebersamaan di berbagai
lembaga pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai falsafah hidup bangsa, hakekat nilai-nilai
Pancasila telah hidup dan diamalkan oleh bangsa Indonesia sejak negara ini
belum berbentuk. Artinya, rumusan Pancasila sebagaimana tertuang dalam alinea 4
UUD 1945 sebenarnya merupakan refleksi dari falsafah dan budaya bangsa,
termasuk di dalamnya bersumber dan terinspirasi dari nilai-nilai dan ajaran agama
yang dianut bangsa Indonesia.
Islam sebagai agama yang dipeluk secara mayoritas oleh
bangsa ini tentu memiliki relasi yang sangat kuat dengan nilai-nilai Pancasila.
Hal ini dapat disimak dari masing-masing sila yang terdapat pada pancasila.
Indonesia dengan dasar Negara “Pancasila”, dimana
dalam sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan lambang Bintang terdapat
pada dada burung Garuda, korelasinya dengan Qurban, adalah wujud perhatian yang
kuat pada yang lemah, bentuk persaudaraan golongan yang kaya dengan yang
miskin, dimana yang kaya menyayangi yang miskin. Qurban dengan ajakan untuk
saling berbagi juga memiliki makna “Kemanusiaan yang Adik dan Beradab”,
sebagaimana yang tertuang dalam sila kedua, dimana beradab adalah pembagian
daging dengan iklas, untuk mengambil atau dibagi, yang kuat memperhatikan yang
kecil atau yang lemah. Itu adalah kemanusiaan dan beradab.
B. Kritik dan
Saran
Demikian makalah dari kami. Kami menyadari makalah yang kami masih
jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
butuhkan untuk perbaikan makalah selanjutnya.
C. Daftar Pustaka
Kaelan,
filsafat.Pancasila. Yogyakarta: Paradigma,2012
Zubaidi, Ahmad.Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan
Tinggi. Yogyakarta: Paradigma.2010
Anam, Khoirul.Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk
Perguruan Tinggi. Yogyakarta:Inti Media.2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar