Kamis, 11 Desember 2014

Qurban Menurut Nilai Pancasila

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam Islam, Qurban bukan sekedar upacara penyembelihan binatang, dan aktivitas membagikan daging hewan pada mereka yang tidak punya uang. Lebih dari itu, Qurban memiliki akar sejarah yang demikian kuat, dan memiliki posisi yang sangat penting ditengah-tengah masyarakat, selain memiliki ukuran religi yang menghubungkan antara makhluq dan kholiq. Dengan demikian, qurban dapat mempererat tali ikatan, sekaligus qurban menjadi cermin yang memberikan informasi sejauh mana seseorang muslim mau berkorban kepada sesama.
Tradisi qurban bermula pada masa nabi Ibrahim AS. Pada masa nabi ismail bin ibrahim berusia 7 tahun, tepatnya pada tanggal kedelapan (bulan Dzulhijjah). Nabi ibrahim bermimpi mendapat perintah dari allah untuk menyembelih nabi ismail, lantas nabi ibrahim berfikir, apakah mimpi tersebut dari allah? Atau dari syaithan. Maka dari itulah hari tersebut di kenal dengan hari tarwiyah (hari yang meragukan).Malam berikutnya, yakni malam kesembilan bulan Dzulhijjah nabi ibrahim bermimpi kembali dan akhirnya nabi ibrahim yaqin bahwa mimpi itu benar-benar dari allah SWT oleh sebab itu, tanggal 9 dzulhijjah dikenal dengan hari arafah.
Pada malam berikutnya, yaitu malam kesepuluh bulan dzulhijjah nabi ibrahim bermimpi lagi, akhirnya pada keesokan harinya nabi ibrahim berangkat bersama nabi isma'il untuk melaksanakan perintah Allah, yang bertepatan dengan 10 dzulhijjah, dan hari itu pulalah disebut dengan hari nahr (hari penyembelihan atau qurban). Dengan kesabaran, ketabahan dan ketaatan nabi ibrahim AS dan nabi ismail AS,untuk meneruskan prosesi qurban, dan Allah SWT  menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing).
B. Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian Qurban?
2.      Bagaimana hubungan pelaksanaan Qurban dengan nilai-nilai pancasila?



BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Qurban
Kurban menurut bahasa arab قربن, transliterasi: Qurban), atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Jadi qurban merupakan wujud kesediaan seseorang untuk mengorbankan yang dicintainya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Qurban adalah suatu amalan yang diisyariatkan Islam pada tahun kedua Hijriyah berdasarkan dalil Al-Qur’an, Hadits dan Ijma. Al-Qur’an mensyariatkannya melalui surat Al-Kautsar (QS.108: 1 – 2).   Ibadah Qurban merupakan bentuk wujud SYUKUR kita atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT (nikmat sehat, nikmat selamat, nikmat materi dan masih beribu nikmat lainnya). Ibadah Qurban ibadah yang sudah lama dilakukan, sejak sejarah Nabi Adam.
Sedangkan ritual kurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama islam, dimana dilakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah. Ritual kurban dilakukan pada bulan dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.
Melaksanakan Qurban secara harfiah adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena dalam Alquran, Allah tidak mengharapkan darah atau daging, tetapi patuh terhadap apa yang diperintahkan agama serta menjauhi larangannya. Mengkonsumsi daging, hal tersebut juga sebagai simbul dari perbaikan gizi dan kualitas manusia Indonesia.Disamping itu, Sementara dalam pemaknaannya, qurban adalah penyembelihan hewan serta menebarkan daging kepada mereka yang kurang mampu, atau yang jarang  membagikan daging hewan qurban sebagai bentuk perhatian pada yang kurang beruntung dengan kebutuhan fisik. Penyembelihan hewan ternak untuk dibagikan pada orang lain, secara sosial adalah memberikan sebagian hartanya yang kemudian dibagikan kepada yang kurang beruntung, hal tersebut sangat bagus dalam pembelajaran umat, bagi bangsa Indonesia untuk saling berbagi, karena di Indonesia masih banyak masyarakat yang kurang mampu/miskin.
Sebagai falsafah hidup bangsa, hakekat nilai-nilai Pancasila telah hidup dan diamalkan oleh bangsa Indonesia sejak negara ini belum berbentuk. Artinya, rumusan Pancasila sebagaimana tertuang dalam alinea 4 UUD 1945 sebenarnya merupakan refleksi dari falsafah dan budaya bangsa, termasuk di dalamnya bersumber dan terinspirasi dari nilai-nilai dan ajaran agama yang dianut bangsa Indonesia.
Islam sebagai agama yang dipeluk secara mayoritas oleh bangsa ini tentu memiliki relasi yang sangat kuat dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini dapat disimak dari masing-masing sila yang terdapat pada pancasila.
Indonesia dengan dasar Negara “Pancasila”, dimana dalam sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan lambang Bintang terdapat pada dada burung Garuda, korelasinya dengan Qurban, adalah wujud perhatian yang kuat pada yang lemah, bentuk persaudaraan golongan yang kaya dengan yang miskin, dimana yang kaya menyayangi yang miskin. Qurban dengan ajakan untuk saling berbagi juga memiliki makna “Kemanusiaan yang Adik dan Beradab”, sebagaimana yang tertuang dalam sila kedua, dimana beradab adalah pembagian daging dengan iklas, untuk mengambil atau dibagi, yang kuat memperhatikan yang kecil atau yang lemah. Itu adalah kemanusiaan dan beradab.
Dari situ maka akan terbentuk persatuan dari kelompok yang kaya atau yang kuat dengan yang lemah atau yang miskin, yang kaya menyayangi yang miskin dan yang miskin juga menghargai yang kuat, demikian juga saat pelaksanaan sholat Idul Adha dilapangan atau Masjid secara bersama-sama tanpa membedakan kaya atau miskin, kuat atau lemah, sebagai bentuk “Persatuan Indonesia”.
Sementara dalam Sila ke empat “Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”, dituangkan dalam Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat, dimana Hikmat adalah bentuk kearifan sebagai hukum Allah yang tidak tertulis dan diajarkan kepada alam, dan menjadi acuan dalam pengelolaan aneka ragam ini.
Demikian juga kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, bahwa semuanya harus ada pimpinan, ada yang memimpin dan yang dipimpin sehingga akan sampailah pada tujuan kemerdekaan RI, yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, jadi makna Qurban dengan implementasi nilai agama, yang seiring sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Ibadah Qurban, sudah kita pahami bersama memiliki nilai-nilai yang dapat mengembangkan kompetensi spiritual, kompetensi sosial bahkan kompetensi Inti pengetahuan dan Keterampilan. Oleh karena itu, sejalan dengan kurikulum baru di Indonesia, maka ibadah Qurban  di beberapa tempat dapat dijadikan kegiatan pembelajaran yang berparadigma kebersamaan di berbagai lembaga pendidikan.






















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebagai falsafah hidup bangsa, hakekat nilai-nilai Pancasila telah hidup dan diamalkan oleh bangsa Indonesia sejak negara ini belum berbentuk. Artinya, rumusan Pancasila sebagaimana tertuang dalam alinea 4 UUD 1945 sebenarnya merupakan refleksi dari falsafah dan budaya bangsa, termasuk di dalamnya bersumber dan terinspirasi dari nilai-nilai dan ajaran agama yang dianut bangsa Indonesia.
Islam sebagai agama yang dipeluk secara mayoritas oleh bangsa ini tentu memiliki relasi yang sangat kuat dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini dapat disimak dari masing-masing sila yang terdapat pada pancasila.
Indonesia dengan dasar Negara “Pancasila”, dimana dalam sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan lambang Bintang terdapat pada dada burung Garuda, korelasinya dengan Qurban, adalah wujud perhatian yang kuat pada yang lemah, bentuk persaudaraan golongan yang kaya dengan yang miskin, dimana yang kaya menyayangi yang miskin. Qurban dengan ajakan untuk saling berbagi juga memiliki makna “Kemanusiaan yang Adik dan Beradab”, sebagaimana yang tertuang dalam sila kedua, dimana beradab adalah pembagian daging dengan iklas, untuk mengambil atau dibagi, yang kuat memperhatikan yang kecil atau yang lemah. Itu adalah kemanusiaan dan beradab.

B. Kritik dan Saran
Demikian makalah dari kami. Kami menyadari makalah yang kami masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan untuk perbaikan makalah selanjutnya.
C. Daftar Pustaka
Kaelan, filsafat.Pancasila. Yogyakarta: Paradigma,2012
Zubaidi, Ahmad.Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Paradigma.2010
Anam, Khoirul.Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta:Inti Media.2011